Gurame (Osphronemus goramy) tergolong ikan yang relatif mudah dipijahkan, tetapi justru karena itu banyak pemula mengabaikan detail teknis dan berakhir dengan telur putih, larva mati, atau induk stres berkepanjangan. Kesalahan paling sering bukan pada bibit unggul atau pakan mahal, melainkan pada manajemen induk, kualitas air, dan penanganan telur yang terkesan sepele. Berikut kekeliruan yang paling umum terjadi di kolam pembenihan pemula.
1. Seleksi Induk Asal-asalan
Pemula kerap membeli gurame dari pasar konsumsi lalu memaksakannya menjadi induk. Padahal induk berkualitas harus memenuhi kriteria terukur:
- Umur minimal 18–24 bulan untuk betina, 24–30 bulan untuk jantan.
- Bobot ideal 1,5–3 kg per ekor dengan perut betina membuncit dan lubang genital memerah.
- Jantan memiliki tonjolan di dahi (cungkil) yang jelas dan sirip punggung lebih runcing.
- Rasio pemijahan aman: 1 jantan untuk 2–3 betina dalam kolam 3x3 meter.
Induk yang belum matang gonad akan memakan waktu berminggu-minggu di kolam, menambah biaya pakan tanpa hasil.
2. Tidak Memperhatikan Kualitas Air dan Suhu
Gurame membutuhkan suhu 27–30°C dan pH 6,5–8,0 untuk memicu ovulasi. Banyak pemula memijahkan di musim hujan tanpa pemanas, sehingga suhu turun ke 24°C dan pemijahan gagal total. Kedalaman kolam pemijahan sebaiknya 60–80 cm, dengan aerasi ringan dan pergantian air 20–30% setiap dua hari. Amonia di atas 0,5 mg/L dan nitrit di atas 0,3 mg/L harus segera dikurangi, karena stres pada induk menekan kematangan telur.
3. Salah Menangani Sarang dan Telur
Gurame membuat sarang dari rumput atau ijuk. Kesalahan umum adalah menempatkan sarang terlalu dangkal atau membiarkan telur menempel di dasar kolam tanpa substrat. Sarang ideal diletakkan 20–30 cm di bawah permukaan air, dengan ijuk halus sebagai media. Setelah pemijahan (biasanya 24–48 jam), telur menempel pada ijuk dan harus dipindahkan ke wadah penetasan berdinding halus. Jangan mengangkat telur dengan tangan; gunakan sendok plastik dan pindahkan bersama air asal untuk menghindari syok osmotik. Padat tebar telur maksimal 500 butir per liter air. Larva menetas dalam 30–40 jam pada suhu 28–30°C, dan kuning telur habis setelah 3–4 hari.
4. Abai pada Pendederan dan Seleksi Lanjutan
Setelah menetas, banyak pemula langsung menebar larva ke kolam besar tanpa pendederan. Akibatnya, kanibalisme dan kematian massal terjadi. Pendederan tahap pertama sebaiknya di bak 1x1 meter dengan kedalaman 30 cm, padat tebar 100–200 ekor per meter persegi, dan pakan alami (Artemia atau kutu air) diberikan sejak hari ke-4. Seleksi ukuran dilakukan setiap 7–10 hari untuk mencegah dominasi. Untuk seleksi induk berikutnya, tandai gurame yang pertumbuhannya cepat (minimal 8–10 cm per bulan) dan bebas cacat.
Kesimpulannya, keberhasilan pemijahan gurame ditentukan oleh disiplin pada tiga hal: induk yang benar-benar matang, air yang stabil, dan penanganan telur yang higienis. Hindari empat kesalahan di atas, dan tingkat penetasan di atas 70% bukan hal yang sulit dicapai.