Salinitas adalah variabel kedua terpenting setelah suhu dalam penetasan telur ikan bandeng (Chanos chanos). Telur bandeng bersifat pelagis dan mengapung, sehingga densitas air yang dikendalikan salinitas menentukan posisi telur di kolom air, pasokan oksigen, serta laju osmosis embrio. Salah perhitungan salinitas beberapa ppt saja dapat menurunkan daya tetas hingga puluhan persen.
Mengapa Salinitas Menentukan Keberhasilan Penetasan
Telur bandeng yang baru dibuahi memiliki diameter 1,1–1,2 mm dan mengandung butir minyak yang membuatnya mengapung. Pada salinitas 28–32 ppt, telur melayang stabil di permukaan hingga menetas dalam 20–26 jam pada suhu 28–30 °C. Bila salinitas terlalu rendah (di bawah 20 ppt), telur kehilangan daya apung, tenggelam, dan menumpuk di dasar bak sehingga kekurangan oksigen. Sebaliknya, salinitas di atas 38 ppt memperlambat penyerapan kuning telur dan meningkatkan tekanan osmotik yang memaksa embrio mengeluarkan energi berlebih untuk keseimbangan ion.
Hasil pengujian balai benih menunjukkan daya tetas optimal 85–92% pada rentang 30–32 ppt, turun menjadi 55–65% pada 20 ppt, dan hanya 40–50% pada 40 ppt. Larva yang menetas di luar rentang optimal juga cenderung lebih kecil dan kuning telurnya terserap tidak sempurna.
Langkah Praktis Pengaturan Salinitas di Hatchery
Air laut alami biasanya 30–34 ppt. Untuk mencapai salinitas target, lakukan pencampuran dan pengukuran berikut:
- Ukur salinitas air sumber dengan refraktometer atau salinometer, catat suhunya karena pembacaan bergeser 0,1–0,2 ppt per 5 °C.
- Gunakan air tawar yang sudah disaring dan diendapkan 24 jam untuk menurunkan salinitas; tambahkan air laut pekat (garam krosok 30–35 g/L) bila perlu menaikkan.
- Targetkan 30–32 ppt untuk penetasan, dengan fluktuasi maksimal 1 ppt selama inkubasi.
- Aerasi ringan 1–2 titik per m³, cukup membuat gelembung halus tanpa mengaduk telur.
- Padat tebar telur 20.000–40.000 butir per m³ untuk menjaga oksigen terlarut di atas 5 mg/L.
- Setelah telur menetas, turunkan salinitas secara bertahap 2 ppt per hari menuju 20–25 ppt untuk pendederan, agar larva beradaptasi sebelum ditebar ke tambak.
Kaitan dengan Seleksi Induk dan Kualitas Telur
Salinitas tidak bekerja sendirian. Induk yang terseleksi dengan bobot 3–5 kg, tingkat kematangan gonad III–IV, dan pemberian pakan berprotein 35–40% akan menghasilkan telur dengan butir minyak besar sehingga daya apungnya lebih toleran terhadap fluktuasi salinitas. Sebaliknya, telur dari induk yang kurang matang mudah tenggelam meski salinitas sudah tepat. Karena itu, catat asal induk, tanggal pemijahan, dan salinitas inkubasi pada setiap batch sebagai data evaluasi.
Salinitas 30–32 ppt adalah titik kerja terbaik untuk penetasan telur bandeng, dengan toleransi aman 28–34 ppt. Menjaga stabilitas nilai ini, disertai aerasi ringan dan padat tebar terkendali, jauh lebih menentukan hasil dibanding mengejar angka ekstrem. Kualitas induk dan konsistensi pengukuran harian adalah dua kunci yang melengkapinya.