Larva ikan adalah fase paling rentan dalam siklus pembenihan. Sistem imun belum sempurna, ukuran mulut masih mikro, dan kepadatan tebar yang tinggi di bak penetasan membuat patogen menyebar dalam hitungan jam. Serangan penyakit pada fase ini bisa memangkas tingkat kelulusan hidup (survival rate) dari 80% menjadi di bawah 30% hanya dalam dua hari.

Mengenali gejala sejak dini dan merespons tepat adalah kunci. Berikut penyakit yang paling sering menyerang larva di hatchery, beserta langkah penanganan yang bisa langsung diterapkan.

1. Saprolegniasis (Jamur Air)

Ditandai munculnya benang putih seperti kapas pada telur yang gagal menetas dan larva lemah. Penyebab utamanya adalah Saprolegnia sp. yang tumbuh subur saat telur menumpuk atau sirkulasi air buruk.

Penanganan:

  • Kurangi kepadatan telur maksimal 1.500 butir per liter untuk ikan mas, atau sesuaikan dengan ukuran telur.
  • Tingkatkan aliran air menjadi 2–3 kali pergantian volume bak per jam.
  • Rendam telur dalam larutan methylene blue 2–3 ppm selama 10–15 menit, ulangi setiap 24 jam hingga telur menetas.
  • Angkat dan buang telur yang sudah ditumbuhi jamur agar tidak menular.

2. White Feces Disease (WFD) pada Larva

Larva terlihat lemas, mengeluarkan kotoran putih memanjang, dan nafsu makan hilang. WFD umumnya dipicu bakteri Vibrio atau Aeromonas yang berkembang saat kualitas air memburuk, terutama amonia di atas 0,5 mg/L.

Langkah konkret:

  • Ganti 30–50% air bak pemeliharaan, pastikan suhu air pengganti sama (±1°C).
  • Puasa larva 12 jam untuk mengosongkan saluran pencernaan.
  • Berikan probiotik Bacillus subtilis dosis 1×10⁸ CFU/mL melalui pakan atau langsung ke air setiap 2 hari.
  • Jika serangan berat, gunakan enrofloxacin 10 mg/kg pakan selama 5 hari, lalu hentikan (hindari residu antibiotik).

3. Infeksi Trichodina dan Epistylis

Protozoa ini menempel pada kulit dan insang larva, membuat larva sering menggosok badan ke dinding bak, berenang tidak teratur, dan akhirnya mati karena gangguan pernapasan. Sering muncul setelah pemberian pakan alami yang tidak dicuci bersih.

Penanganan:

  • Rendam larva dalam larutan garam 3–5 g/L selama 3–5 menit (larva umur 3 hari ke atas).
  • Untuk serangan ringan, gunakan formalin 25 ppm selama 30 menit dengan aerasi kuat.
  • Cuci pakan alami (Artemia, rotifer) dengan air bersih sebelum diberikan, dan simpan pada suhu 4°C maksimal 24 jam.

4. Malformasi dan Penyakit Lingkungan

Bukan penyakit infeksius, tetapi sering dianggap penyakit: larva bengkok, kuning telur tidak terserap, atau kematian massal mendadak. Pemicunya adalah suhu fluktuatif di atas 2°C per jam, pH di luar 6,5–8,5, atau oksigen terlarut di bawah 5 mg/L.

Pencegahan:

  • Stabilkan suhu dengan heater atau ruang terkontrol, target 27–29°C untuk ikan air tawar tropis.
  • Aerasi 24 jam dengan blower, pasang batu aerasi halus agar tidak menabrak larva.
  • Ukur amonia, nitrit, dan pH setiap hari pada minggu pertama.

Kunci pengendalian penyakit larva bukan pada pengobatan, melainkan pada pencegahan: kualitas air stabil, kepadatan wajar, pakan alami bersih, dan seleksi induk yang benar-benar bebas patogen. Induk yang sehat menghasilkan telur berkualitas, dan telur berkualitas menghasilkan larva yang tahan terhadap tekanan penyakit. Catat setiap kejadian penyakit di log harian, karena pola serangan biasanya berulang pada siklus pembenihan berikutnya.