Menghitung jumlah telur per kilogram induk bukan sekadar angka statistik, melainkan dasar penentuan kebutuhan induk, pakan, dan target produksi benih. Kesalahan estimasi membuat jadwal pemijahan kacau dan biaya pakan membengkak tanpa hasil sepadan. Berikut cara praktis menghitungnya di hatchery skala kecil hingga menengah.
Kenapa FeKondisi Induk Menentukan Jumlah Telur
Jumlah telur per kilogram induk sangat bervariasi antar spesies dan tingkat kematangan gonad. Ikan lele dumbo matang gonad umumnya menghasilkan 40.000–60.000 telur/kg bobot induk, nila 30.000–50.000 telur/kg, dan mas 100.000–150.000 telur/kg. Induk yang dipelihara dengan pakan protein 28–32% dan kepadatan rendah (1–2 ekor/m²) cenderung menghasilkan fekunditas 20–30% lebih tinggi dibanding induk yang stres.
Langkah Menghitung Fekunditas per Kilogram
Fekunditas dihitung dari sampel telur, bukan dari seluruh ovari. Metode volumetrik paling praktis diterapkan:
- Timbang induk betina yang siap dipijahkan (contoh 1,5 kg).
- Ambil sampel telur 1 gram dari bagian tengah ovari, lalu hitung jumlah butirnya (misal 52 butir/gram).
- Timbang total bobot ovari (misal 180 gram).
- Kalikan: 180 g × 52 butir = 9.360 telur per ekor.
- Bagi dengan bobot induk: 9.360 ÷ 1,5 kg = 6.240 telur/kg induk.
Untuk nila dan lele, rasio bobot ovari terhadap bobot tubuh biasanya 10–15%, sedangkan mas bisa 15–20%. Jika angka ini turun di bawah 8%, tunda pemijahan 3–5 hari dan tambah pakan protein tinggi.
Dari Telur ke Larva: Koreksi Angka
Jumlah telur tidak sama dengan jumlah larva yang menetas. Fertilization rate normal 80–90%, sedangkan hatching rate 70–85% tergantung kualitas air dan suhu. Dari 9.360 telur contoh di atas, hasil larva realistis sekitar 5.000–6.500 ekor. Faktor koreksi ini penting saat menyusun target produksi benih dan kebutuhan pakan artemia atau kuning telur.
- Fertilization rate di bawah 70%: periksa rasio jantan:betina (idealnya 1:1 hingga 2:1).
- Hatching rate rendah: jaga suhu 26–29°C dan oksigen terlarut minimal 5 mg/L.
- Telur menempel atau menggumpal: beri aerasi lembut dan hindari kepadatan lebih dari 1.500 butir/L.
Seleksi Induk dan Pencatatan Rutin
Catat bobot induk, tanggal pemijahan, jumlah telur, dan hasil larva di logbook. Data ini memungkinkan seleksi induk berdasarkan performa reproduksi, bukan sekadar ukuran tubuh. Induk dengan fekunditas per kilogram tertinggi dan fertilization rate stabil layak dipertahankan sebagai tetua untuk siklus berikutnya. Lakukan sampling ovari setiap 2 minggu agar jadwal pemijahan lebih terukur dan pemborosan induk bisa ditekan.
Menghitung jumlah telur per kilogram induk memberi dasar kuat untuk perencanaan produksi benih yang efisien. Dengan sampling sederhana, koreksi fertilization dan hatching rate, serta seleksi induk berbasis data, hatchery dapat memprediksi output larva secara akurat sekaligus menghemat pakan dan tenaga kerja.