Ikan bawal air tawar (Colossoma macropomum) termasuk komoditas unggulan karena pertumbuhannya cepat, bisa mencapai 1–1,5 kg dalam 6 bulan, dan toleran terhadap kepadatan tinggi. Namun, produktivitas budidaya sangat bergantung pada kualitas benih, sehingga teknik pemijahan yang terkontrol menjadi kunci. Pemijahan buatan memungkinkan pembenih memenuhi permintaan benih secara konsisten tanpa bergantung pada musim.

Seleksi Induk Siap Pijah

Induk betina yang matang ditandai perut membuncit, lubang genital memerah, dan bobot minimal 2–3 kg. Induk jantan siap pijah berukuran 1,5–2 kg dengan lubang genital memutih dan mengeluarkan cairan sperma saat perut distrip ringan. Perbandingan jantan dan betina yang dianjurkan adalah 1:1 atau 2:1. Sebelum dipijahkan, induk dikondisikan dalam bak pemeliharaan dengan pakan pellet protein 28–32% sebanyak 2–3% bobot tubuh per hari selama 2–3 minggu.

Teknik Pemijahan dan Penetasan Telur

Pemijahan dilakukan secara buatan dengan rangsangan hormon. Dosis umum: ovaprim 0,5 ml/kg untuk betina, atau HCG 500–800 IU/kg. Penyuntikan dilakukan dua tahap, dengan selang 6–8 jam. Setelah 8–10 jam dari suntikan terakhir, telur distrip ke wadah bersih, lalu dibuahi dengan sperma yang diencerkan larutan NaCl 0,9%.

  • Telur dicuci dengan air bersih untuk membuang sisa kotoran dan sperma berlebih.
  • Telur ditebar di akuarium penetasan atau corong tetasan dengan kepadatan 2.000–3.000 butir per liter.
  • Telur menetas dalam 18–24 jam pada suhu 26–28°C.
  • Larva dipelihara di bak penetasan selama 2–3 hari hingga kantong kuning habis.

Pendederan Larva dan Benih

Larva berumur 3 hari mulai diberi pakan alami berupa artemia atau rotifera, lalu diganti pellet halus setelah umur 7 hari. Kepadatan pendederan yang aman: 500–1.000 ekor/m² untuk larva, dan 100–200 ekor/m² untuk benih ukuran 5–8 cm. Kualitas air dijaga pada pH 6,5–8,0, suhu 26–30°C, dan oksigen terlarut minimal 4 mg/L. Pergantian air 20–30% setiap dua hari membantu menekan ammonia.

Kesimpulannya, keberhasilan pemijahan ikan bawal air tawar ditentukan oleh seleksi induk yang cermat, pemberian hormon dengan dosis tepat, serta pengelolaan penetasan dan pendederan yang higienis. Pembenih yang konsisten menerapkan prosedur ini dapat menghasilkan benih sehat dalam jumlah besar sepanjang tahun.