Pemijahan ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan tahap paling menentukan dalam siklus pembenihan, karena kualitas benih sangat bergantung pada keberhasilan proses ini. Ada dua pendekatan yang lazim digunakan pembudidaya: pemijahan alami yang meniru kondisi lingkungan asli, dan pemijahan buatan yang melibatkan rangsangan hormon serta stripping telur secara manual. Memahami keduanya memungkinkan pembenih memilih metode sesuai skala usaha, ketersediaan induk, dan target produksi.

Persiapan dan Seleksi Induk

Induk yang dipijahkan harus matang gonad, sehat, dan tidak cacat. Ciri induk betina siap pijah: perut membuncit simetris, lubang genital kemerahan dan membengkak, serta bobot minimal 1,5–2 kg. Induk jantan ditandai dengan munculnya bintil-bintil keras (nuptial tubercles) pada kepala dan sirip, serta keluarnya cairan putih (sperma) saat perut diurut ke arah genital.

  • Rasio pemijahan alami: 1 betina : 2–3 jantan.
  • Kepadatan kolam pemijahan: 1 ekor induk per 2–3 m².
  • Pakan induk: pelet dengan protein 28–32%, 3% dari bobot biomassa per hari.
  • Kakaban (substrat telur): ijuk, rumput laut kering, atau hapa halus.

Pemijahan Alami

Metode ini paling sederhana dan cocok untuk skala menengah. Induk dilepas ke kolam pemijahan pada sore hari, lalu diberi rangsangan berupa aliran air tipis dan penurunan suhu 2–3°C untuk memicu ovulasi. Pemijahan biasanya terjadi dini hari hingga pagi, ditandai dengan suara cipratan dan telur menempel pada kakaban. Setelah 6–8 jam, kakaban diangkat dan dipindahkan ke kolam penetasan. Satu induk betina berukuran 2 kg menghasilkan 200.000–300.000 butir telur, dengan tingkat penetasan normal 70–85%.

Pemijahan Buatan (Induced Breeding)

Pemijahan buatan memberi kontrol lebih tinggi atas waktu dan jumlah telur. Prosedurnya dimulai dengan penyuntikan hormon perangsang, umumnya ovaprim atau kombinasi kelenjar hipofisis (PG) dosis 2–4 mg/kg betina. Hormon disuntikkan intramuskular pada bagian punggung di bawah sirip dorsal.

  • Penyuntikan betina: dua tahap, interval 6–8 jam; dosis kedua lebih besar.
  • Penyuntikan jantan: dosis setengah betina, dilakukan bersamaan suntikan kedua.
  • Waktu ovulasi: 8–12 jam setelah suntikan terakhir pada suhu 26–28°C.
  • Stripping: urut perut betina ke arah genital, tampung telur di wadah kering.
  • Pembuahan: campur sperma, aduk dengan bulu ayam 1–2 menit, tambahkan air bersih.

Telur hasil stripping ditebar merata di kakaban dalam bak penetasan dengan aliran air 0,5–1 liter/detik. Telur menetas dalam 48–72 jam, lalu larva dipelihara di hapa pendederan hingga umur 3–5 hari sebelum diberi pakan kuning telur atau artemia.

Penetasan dan Pendederan Awal

Bak penetasan sebaiknya berbentuk corong (funnel) atau akuarium dengan aerasi lembut untuk mencegah telur menumpuk dan berjamur. Kepadatan tebar telur 500–1.000 butir per liter. Setelah larva menyerap kuning telurnya (umur 2–3 hari), pemberian pakan dimulai dengan dosis kecil namun sering, 4–6 kali sehari. Pendederan tahap pertama berlangsung 2–3 minggu hingga benih mencapai ukuran 2–3 cm, dengan kepadatan 500–1.000 ekor per m².

Pemijahan alami unggul untuk efisiensi tenaga kerja, sedangkan pemijahan buatan memberi keunggulan pada sinkronisasi dan jumlah telur. Kunci keberhasilan keduanya tetap sama: seleksi induk yang ketat, kualitas air yang stabil, dan penanganan telur yang higienis. Dengan menguasai kedua teknik, pembenih dapat menjaga kontinuitas produksi benih ikan mas sepanjang tahun.